Tergabung dalam Grup H bersama tim kuat Polandia, Kolombia, dan Senegal, Jepang dirasa akan kesulitan untuk lolos ke fase selanjutnya. Namun diluar dugaan, mereka tampil cukup meyakinkan di laga perdana dengan mengalahkan Kolombia dengan skor 1-2. Selanjutnya pada laga melawan Senegal juga mereka dua kali mampu mengejar ketertinggalan hingga menyudahi laga dengan skor 2-2. Akhirnya mereka pun finish sebagai Runner-up di bawah Kolombia, meski dengan keunggulan poin fair play atas Senegal.

Menjadi satu-satunya wakil Benua Asia, ujian selanjutnya menanti di babak 16 besar kala mereka harus bertemu salah satu kandidat juara, Belgia. Perbedaan kualitas pemain jelas membuat Belgia lebih diunggulkan. Tetapi lagi-lagi dengan kegigihan dan semangat pantang menyerah Jepang mampu unggul dua gol terlebih dahulu di awal babak kedua. Cukup disayangkan keunggulan mereka harus dibalas tiga gol oleh Belgia, lebih sakit lagi gol ketiga Belgia dicetak pada Injury Time.

Rasa sakit tentu menyelimuti Timnas Jepang dan suporternya. Namun bukannya mengungkapkan kekesalannya, suporter Jepang justru melakukan aksi positif dengan memungut sampah di sekitar bangku penonton. Aksi ini merupakan bentuk budaya Jepang yang menghargai kebersihan. Sebelumnya di fase grup, mereka juga melakukan aksi yang sama bersama suporter Senegal. Bahkan di edisi Piala Dunia sebelumnya di Brazil, suporter Jepang juga melakukannya.

Tidak hanya suporter, para pemain Timnas Jepang juga melakukan hal yang sama. Mereka membersihkan ruang ganti meski dalam keadaan kecewa cukup berat. Foto yang dilansir dari Twitter @WorldCupUpdates ini menunjukkan suasana ruang ganti yang tampak bersih dengan tulisan ‘Terima Kasih’ dalam bahasa Rusia. Padalah Pelatih Jepang, Akira Nishino, membenarkan para pemainnya yang sangat terpukul di ruang ganti pasca kekalahan menyakitkan dari Belgia.

Hal tersebut tentu mendapat apresiasi cukup besar dari banyak media. Banyak yang menilai suporter Jepang dapat menjadi panutan bagi suporter lainnya. Hal-hal positif seperti inilah yang dapat menjadi contoh khususnya bagi Indonesia, mengingat masih banyak aksi negatif dari para suporter di Indonesia.